Assalamualaikum :)
Wihhhh, Ternyata udah lama banget ngga ngepost ya. Ngepost
kali ini juga sebenernya di sponsori sama mata ngantuk, idung meler, sama badan
miring-miring (baca: pegel) akibat merencana yang emang dikerjain SKBH (sistem
Kebut Beberapa Hari)
Berhubung post kali ini untuk salah satu mata kuliah, jadi
postnya tetep masih terkait sama interior. Seperti yang dijelasin sebelumnya,
secara garis besar desain interior emang mempertimbangkan bagaimana kondisi
ruang dalam agar penghuni merasa nyaman baik secara fisik maupun psikologi. namanya
Ilmu Ergonomi.
Menurut slide dari Bapak Dosen, pengertian
ERGON (kerja) NOMOS
(aturan/hukum), jadi ergonomi bisa diartiin sebagai studi tentang aspek manusia dalam
lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi,
engineering, manajemen dan desain/perencangan untuk mendapatkan suasana yang
sesuai. Jadi ergonomi, akan selalu dipertimbankan di manapun, kapanpun
dengan kegiatan apapun.
Sumber : http://lelineinterior.blogspot.com/2013/01/blog-post_3387.html
Nah sekarang langsung ke studi kasus, gimana kalo kaitannya
sama rumah makan cepat saji? Kenapa juga kita kalau makan disitu selalu merasa
ngga nyaman untuk lama-lama? -_-
Dibahas satu-satu ya. Rumah makan cepat saji atau fastfood bukan lagi tempat yang sulit kita temui. Dari
namanya aja, udah bisa disimpulin kalau dirumah makan cepat saji pergantian
pengunjungnya relatif lebih cepat dari cafe, hal itu ditunjang dari tujuan
rumah makan itu sendiri dan makanannya yang udah langsung terhidang.
Yang pertama mau dibahas dari furniturenya. Semua furniture selalu punya standar ukuran yang didapat
dari hasil survey rata-rata ukuran tubuh manusia. Sama juga kaya dirumah makan,
kursi dan meja makan juga harus mempunyai ukuran sesuai sama target pasar. Nah
kalau dicafe kursi dibuat senyaman mungkin, bisa dari ukurannya, pake sofa atau
dikursinya dikasih cushion. Lain lagi di rumah makan cepat saji, rata-rata ukuran kursi dibuat standar dan tanpa sandaran tangan, jadi emang secara
ergonomi dikondisikan cuma buat kegiatan makan dan kurang memperthitungkan
kenyaamanan untuk digunakan dalam jangka waktu lama, karena kalau kelamaan bisa
membuat pengguna lelah.
Yang kedua yaitu kondisi
ruang dan pembagian area. Kebanyakan, sirkulasi manusia di ruang dibuat
tidak terlalu lebar, karena tujuannya emang untuk kapaaitas pengunjung yang
banyak dan lebih memperbanyak kursi dan meja, sehingga jarak antar satu meja ke
meja lain cukup berdekatan. Akan tidak nyaman untuk pengunjung apabila mau mengobrol
mengenai hal-hal pribadi. Selain itu seringkali warna ruang didominasi oleh
warna terang seperti Orange yang apabila dilihat dari dampaknya ke psikologis
manusia, warna orange tersebut memicu rasa lapar. Hal itu ditambah dengan
seringkali pihak rumah makan memutar lagu bertempo cepat, yang dari
psikologisnya membuat pengunjung untuk cepat melakukan kegiatan diruangan.
Dari beberapa penjabaran diatas, rumah makan cepat saji
memang mendesan ruangannya dengan
pertimbangan ergonomi agar pengunjung tidak berlama-lama. Namun hal itu bukan
berarti tidak mempertimbangkan faktor kenyamanan dari manusia yang berada
didalamnya, misal dengan tetap memperhatikan
pemilihan furniture pembagian area yang tepat agar retap terjaganya kenyamanan dan
keselamatan bagi pengguna.
Udah cukup banyak ternyata postnya hehe, sekian buat yang
satu ini, terimakasih.
Dhita Rosalia :)
.jpg)